Connect with us

Ternak

Barak Nusa BF Jembrana, Cetak Murai Petarung dan Trah Bertelur Banyak

KONBUR Tayang

:

de
Kadek Barak bersama Yoga Mahandika di Barak Nusa BF

TAK semua betina murai batu mampu bertelor banyak rata-rata 5 butir sekali produksi. Terlebih lagi ditambah anakannya bisa moncer di lapangan. Untuk bisa berhasil, hanya segelintir indukan yang mampu mengkombinasikan. Dan betina yang super ini ada di Barak Nusa BF Melaya Jembrana milik I Made Adnyana yang akrab disapa Kadek Barak.

Kadek Barak menemukan betina super ini dari peternak Banyuwangi yang kemudian disandingkan dengan Rawarontek, pejantan yang pernah moncer di arena namun sempat 20 kali sakit tetapi bisa kembali pulih sedia kala sehingga diberi nama Rawarontek. Rawarontek inilah yang kemudian dijodohkan dengan betina super ini yang kemudian meretaskan beberapa anakan yang sempat moncer di Jembrana, Denpasar dan Lombok.

Di antara anakannya yang melejit di lapangan ada Dolpin sempat berkibar di Jembrana kemudian Sutet yang kini mulai bersinar di lapangan yang sudah dipegang Mr. Kafir. Ada juga anakannya yang moncer di Lombok. ‘’Saya belum memantau yang lain, karena mungkin saja ada yang masih disimpan belum diturunkan ke lomba,’’ terang Kadek Barak saat didampingi Yogi Mahandika, salah satu juri PBI Cabang Jembrana yang sama-sama seperjuangan sempat bekerja sebagai tenaga kerja di negeri Sakura Jepang.

Kadek Barak dan Yoga Mahandika membelakangi anakan Barak Nusa BF yang di belakangnya 16 anakan cewek yang dibesarkan sebelum dijual

Kadek Barak kemudian bertutur sebelum terjun sebagai penangkar, ia sempat sebagai pekerja di Jepang yang merupakan program bupati Jembrana. Tahun 2011 habis kontrak pulang ke Bali lanjut meneruskan sekolah D1 di Denpasar. Tamat D1 ia sempat beberapa bulan bekerja di Denpasar dan akhirnya memutuskan pulang ke kampung.

Balik ke kampung Banjar Anyar Sari Desa Nusa Sari Melaya Jembrana, ia memilih ngampas, atau membawa barang keliling dari warung ke warung sambil membeli murai batu untuk diperlihara. Beberapa bulan ia mulai dekat dengan murai, terlebih lagi banyak mendapat informasi dari rekan-rekan penghobi burung bahwa beternak murai cukup menjanjikan. Termasuk mendapat dukungan dari pengurus PBI Jembrana kepemimpinan Budi Dharma yang konsen mendorong penghobi burung untuk beternak burung-burung lomba seperti murai batu, cucak rowo, dan kacer serta jalak Bali.

Ia semakin bersemangat menyisihkan uangnya untuk membeli indukan. Setelah cukup terkumpul tahun 2013 ia mulai membangun kandang murai yang kini dalam perkembangannya sudah ada 8 kandang permanen di bagian atap yang dicor beton agar terhindar dari gangguan binatang.  ‘’Dari 8 kandang ini rata-rata sudah berproduksi yang mampu menghasilkan per bulan 14 ekor anakan,’’ papar Kadek Barak seraya mengatakan merasakan hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga, ia memutuskan berhenti ngampas dan fokus hanya beternak murai batu.

Seekor anakan Rawarontek yang masih tersisa untuk persipan lomba

Selain Rawarontek yang sudah terbukti anakannya moncer di lapangan dan hasil produksinya 4 ekor sekali produksi juga ada Redbull, Bodrex dan Taksu yang juga menjadi pejantan tangguh di Barak Nusa BF. Redbull sempat moncer di lapangan sedangkan Taksu bergelang Barak Nusa dipakai indukan karena dirinya sempat menjanjikan tidak akan menjual tetapi karena permintaan rekan yang sudah berjasa memberi informasi tentang peternakan maka burung itu dilepas. Yang terjadi kemudian seluruh burung sakit dan di antaranya beberapa ekor mati. Namun setelah Taksu mau dijual dan ia mengambil kembali, seluruh burung sehat sedia kala sehingga diberi nama Taksu.

Walaupun Barak Nusa BF hari ini bisa memproduksi 14 ekor anakan sebulan, namun mengaku telah melalui proses jatuh bangun, bahkan seringkali mengalami mati indukan karena diserang virus. Persoalan seringkali muncul mulai dari perjodohan. Sudah jodoh tidak mau nelor, sudah nelor tidak mau netas. Sudah netas anaknya tidak mau hidup. ‘’Biar lolos bisa anakannya dijual perjuangannya lumayan berat,’’ ungkapnya.

Kadek pernah merasakan anakannya umur 20 hari lahap makan tetapi nyilet, bahkan sudah pakai obat cacing juga tidak mau pulih. Pernah juga mengalami anakan umur 5-6 hari di dalam gelodok mati sampai 25 ekor seperti kena penyakit sasab ayam.

Dari pengalaman selama ini, ia merasakan sukses beternak murai intinya mulai dari perjodohan. Bagaimana agar indukan mau jodoh. Cewek dipastikan birahinya full maka dominan mau jodoh, karena saat pejantan mengejar akan langsung ngeper. Untuk mengetahui betina birahi biasanya sering bunyi dan ngeper ngeper. ‘’Jika dideketin cowok akan ngeper,’’ katanya.

Setelah jodoh maka perlu mengondisikan agar perkawinannya sempurna melalui pemberian ekstrafooding yang terukur. Saat mulai kawin diberikan full ekstrafooding baik jangkrik dan kroto. Pemberian full kroto agar mau bertelur penuh. Setelah mulai ngeram krotonya mulai dikurangi agar birahinya berkurang namun pemberian jangkrik tetap full. ‘’Namun semua itu kembali berpulang dari hoki. Karena seringkali kerjaannya sama tetapi hasilnya bisa beda. Oleh karena itu menekuni beternak murai atau binatang lain harus hobi, harus menjiwai, memperlakukan indukan dengan baik  sehingga indukan akan merasa nyaman di dalam kandang,’’ tuturnya.

Kadek Barak memilih mengangkat anakan umur 8 hari agar mudah diloloh yang rata-rata mampu memproduksi 14 ekor ada yang trah ekor panjang, trah bertelor banyak dan tentunya trah burung petarung yang semuanya jenis murai batu Medan. Hal ini tidak terlepas dari Kadek Barak yang juga seorang pelomba sehingga selalu memilih indukan berorientasi burung lomba. Untuk harga per ekor ia mematok sesuai trah masing-masing kandang. Anakan jantan antara harga 2 juta hingga 4,5 juta untuk ekor panjang. (gde)

Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Trending

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.