Connect with us

Perkutut

Tasbih Bird Farm Sumenep, Produk Laku Keras Tak Sempat Orbitkan Ternakan Sendiri, Dua Kandang Masuk Daftar Bookingan

KONBUR Tayang

:

Awal 2021, RB.N.Taufik Rahman menyatakan diri masuk menjadi bagian dari komunitas hobi perkutut di Sumenep. Menjadi seorang pelomba adalah sebuah pilihan. Bersama beberapa rekan sesama pelomba, RB.Taufik langsung turun lapangan dengan membawa amunisi yang didapat dari beberapa peternak.

Tasbih BF Sumenep berawal dari pelomba, kini menjadi peternak

Agar lebih terlihat kompak, RB.Taufik membentuk team bernama Tasbih yang didapat dari gabungan rekan-rekan sesama kung mania yakni Taufik, Salim, Sutrisno, Budi, Ismail, Iwan dan Hilman. Mereka selalu terlihat kompak, baik saat berangkat menuju arena ataupun saat berada di luar kegiatan hobi perkutut. Beberapa orbitan yang mereka turunkan di arena, sukses mencetak prestasi.

Sampai akhirnya RB.Taifuk Rahman terbersit keinginan, untuk mengorbitkan produk dari kandang sendiri. “Saat itu saya ingin menjadi peternak karena bisa memberikan dampak yang lebih besar agar hobi perkutut saya dan rekan-rekan bisa terus eksis, karana kalau hanya mengandalkan lomba saja dengan produk orang lain, rasanya kurang pas,” terang Gus Opiek.

Diskusi kecil bersama Gus Halim (dua kanan) mantan juri nasional asal Sumenep

Keinginan tersebut semakin kuat ketika ada dukungan dari para senior yang menyarankan untuk menjadi peternak. “Terus terang saya ingin ternak agar ada income sehingga hobi bisa tetap jalan, apalagi saat itu ada masukan dari para senior agar saya segera buat kandang ternak,” ungkap Gus Opiek.

Sejak saat itu, lahirnya Tasbih Bird Farm yang teregistrasi di P3SI Pusat pada Oktober 2021. Total 15 kandang ternak (12 kandang di kediaman Gus Opiek dan sisanya ditempat lain), resmi berdiri. Materi yang menjadi penghuni kandang ternak berasal dari Sha-Sha, Biola, Palem, Cristal, NPD, ACC, TOP, TL, DF dan PJR.

Bersama Gus Halim (kiri) mantan juri nasional yang memberikan dukungan penuh

Misi awal untuk membangun kandang ternak adalah agar team Tasbih bisa mengorbitkan burung sendiri, ternyata tidak menjadi kenyataan. Bukan karena gagal produksi ataupun kualitas tidak mumpuni, bahkan sebaliknya, produk yang dihasilkan dari kandang ternak Tasbih, ludes tanpa sisa.  

“Sebenarnya ternak saya sudah ada hasil, tapi ternyata gak bisa mendapatkan karena sudah laku terjual,” sambung Gus Opiek. Pada saat burung berada pada usia 2 sampai 3 bulan, pada pembeli sudah pada membawanya pulang. Proses transaksi memang ada yang melalui proses pantau, ada juga yang tanpa melalui proses tersebut.

Eksistensi Gus Opiek di arena lomba didukung penuh rekan-rekannya

Pembeli yang mendapatkan produk Tasbih tanpa proses pantau, adalah mereka yang sudah pernah dan percaya dengan kualitas yang dihadirkan. Bahkan ada beberapa kandang ternak yang sudah masuk daftar bookingan. Kandang tersebut adalah Tasbih K-111 (PJR x Ababil) dan Tasbih K-222 (Sha Sha x Sha Sha).

“Pembeli yang booking kandang Tasbih, rata-rata mereka pernah beli saudaranya dan cocok kemudian mereka ambil lagi,” sambung pengorbit perkutut handal bernama Satyavani dan Jacklin. Ditambahkan bahwa tidak semua produk dilepas. Khusus untuk jenis betina, sengaja ditahan dengan tujuan untuk mengembangkan kandang ternak, sehingga tidak perlu menambah materi dari luar.

Optimisme Gus Opiek dalam menekuni hobi perkutut makin terbukti

Pengembangan itulah yang menjadikan Tasbih Bird Farm semakin banyak peminat. Tidak sedikit kung mania yang selama ini sudah mengetahui kualitas produknya, semakin memburu dan menjadikan referensi sebagai burung untuk lomba. Kenyataan itulah yang menjadikan kandang umbaran sebagai tempat menyimpan produk, selalu terlihat kosong.

“Kasihan kandang umbaran saya, selama ini jarang terisi karena penghuninya sudah langsung terjual dan laku ke pembeli,” kata Gus Opiek lagi. Diakui bahwa hal ini menjadikan rasa antara senang dan tidak. Senang karena produknya bisa diminati kung mania lain dan artinya dipercaya karena kualitas.

Kandang umbaran kosong karena ludes terjual tanpa ada sisa

Tidak senang, karena keinginan untuk mengorbitkan burung dari ring sendiri, sampai saat ini belum terealisasi. Demi terus menjadikan hobi perkututnya jalan, Gus Opiek dan rekan-rekan terpaksa membawa produk peternak lain. Bahkan tidak jarang, indukan yang ada dalam kandang harus berangkat menuju arena lomba.

“Alhamdulillah kalau untuk ternak sudah lancar dan sukses, tapi sampai saat ini kami belum berhasil membawa ternakan sendiri ke lapangan. Ada tugas kami dari Tasbih yakni untuk bisa merawat burung sampai bunyi dan mau tampil di lapangan, sehingga kami terus eksis di hobi perkutut,” harap Gus Opiek lagi.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.