Connect with us

Profil

Srikandi RI Dari Muara Wahau Kutai Timur

KONBUR Tayang

:

Meskipun Muara Wahau Kutai Timur jauh sekali jaraknya sekitar 12 jam perjalanan darat dari Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), tetapi dari sana ada sosok talenta muda berbakat sebagai juri pada perlombaan burung. Memang di kota besar Kaltim pada umumnya rata – rata regenerasi penjurian mayoritas dikuasai kaum adam. Namun di Muara Wahau ada Cicik Clarisandy sebagai Srikandinya Radjawali Indonesia (RI) yang namanya terus terbang tinggi mengikuti arah angin, seperti even regionalan terbaru yang diikutiny By-One Cup 1 Muara Wahau (22/9).    

Kolaborasi Juri Radjawali Indonesia Berau, Muara Wahau, Bontang

Berawal sering ikut menjadi kepanitiaan di perlombaan burung di Muara Wahau, Cicik akhirnya bisa mengenyam sebagai seorang Juri perlombaan burung. “Awalnya memang sulit karena pertama cuma ditawari saja, buat belajar juga masih lihat dulu seperti apa menjuri itu karena ya awam dengan kriteria suara burung yang bagus,” beber Cicik biasa dipanggil.

Cicik Clarisandy Srikandi RI dari Muara Wahau Kutai Timur

Dari hanya belajar lama – kelamaan Cicik mulai menggandrungi profesi Juri untuk lebih professional lagi.”Diawal turun lomba rasanya enjoy dan klik dihati setelah dijalani sampai beberapa kali kalau pas menjuri bawaannya nyaman seperti tidak ada beban happy saja gitu mas. Dari situlah mulai mau belajar dan menekuni benar – benar untuk menjuri, karena prinsipnya sesuatu yang dikerjakan bila pas dengan hati itu rasanya enak,” terang wanita lajang tersebut.

Mau Terus Belajar

Sampai sekarang tak terasa sudah hampir 2 tahun Cicik malang melintang diperlombaan burung mulai dari Berau, Muara Wahau, Sangatta, Bontang. Label bendera awal Cicik berkiprah pada penjurian adalah Ronggolawe Nusantara namun pada waktu beberapa bulan lalu karena suatu hal, Cicik memutuskan untuk hijrah bersama bendera RI sampai sekarang.  

Sudah Malang Melintang di Berau, Muara Wahau, Sangatta, Bontang

“Untuk diklat Juri di pusat belum mas, baru brefing pengarahan dasar dari DPD lokal Ronggolawe saja dan beberapa bulan terakhir ini karena sesuatu hal saya memutuskan ikut RI,” jelasnya.

Tak Risaukan Teriakan Peserta

Dukungan dan empati dari keluarga terus diberikan karena sebagai juri adalah juga hobi yang positif tidak aneh – aneh. Namun dari perjalanan selama ini Cicik juga punya pengalaman suka dukanya sebagai juri wanita. “Namanya pekerjaan pasti ada pro kontranya, biasanya yang tidak puas biasanya pemain meneriaki yang kurang enak didengar terkadang juga menyakitkan hati tetapi karena sudah resiko pekerjaan jadi harus tetap bersabar. Kalau sukanya selalu dapat ilmu baru apalagi bila satu tim dengan juri – juri senior lainnya, selain itu menambah teman dan pengalaman baru,” tutup gadis kelahiran tahun 2000 tersebut. *ma5

Pekerjaan Ditekuni Dengan Enjoy

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.