Connect with us

Perkutut

Program Kol-Nil Pengda Sumenep, Kembalikan Semangat Kung Mania yang Nyaris Hilang, Aturan Ketat Jadi Faktor Penentu

KONBUR Tayang

:

P3SI Pengda Sumenep bergerak memajukan hobi perkutut lewat Program Kolom Dinilai (Kol-Nil). Kegiatan tersebut ternyata mampu mendongkrak semangat kung mania untuk lebih aktif dan eksis menekuni hobi. Bukti nyata yang tidak terbantahkan adalah setiap kali gelaran  diadakan, maka selalu dipadati peserta bahkan tidak sedikit yang batal masuk lapangan karena kehabisan tiket.

Ketua Pengda Sumenep (tiga kiri) foto bareng bersama juri

Padahal agenda ini digelar rutin setiap minggu. Dalam satu minggu, jadwal Kol-Nil mampu dilaksanakan sampai tiga kali dari satu kolom (lokasi latihan) ke kolom lainnya. Bahkan untuk saat ini saja sudah banyak pemilik kolom yang mendaftarkan diri untuk menjadi penyelenggara. Agar tidak menggangu kegiatan lain, Pengda Sumenep membuat jadwal.

“Terus terang kami dari Pengda merasa bingung untuk menentukan jadwal pelaksanaan, kami harus mengatur agar tidak sampai mengganggu jadwal resmi yang sudah ada. Karena jadwal resmi dan permintaan Kol-Nil sama-sama banyak,” terang Kades H.Matsin. Jadwal resmi yang dimaksudkan adalah Liga Perkutut Indonesia, Liga Perkutut Jawa Timur dan Liga Perkutut Sumenep.

Kelas kerekan bebas dibuka sesuai keinginan penyelenggara

Jangan sampai karena ingin memenuhi seluruh permintaan, maka melanggar jadwal yang sudah ada. Kegiatan Kol-Nil di Sumenep untuk saat ini memang tidak banyak membuka kelas karena menyesuaikan dengan lokasi yang ada. Untuk kelas sendiri bergantung dari penyelenggara, mau dibuka Kelas Dewasa Bebas, Piyik Yunior atau apapun.

Yang terpenting setiap pelaksanaan harus membuka kelas Piyik Hanging dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada pemilik burung usia muda, karena disinilah mereka mulai belajar. Apa yang sebenarnya menjadi sukses penyelengaraan Kol-Nil di Sumenep, sehingga jumlah peserta selalu membludak dan panitia pasti menolak peserta. Ketua Pengda Sumenep mengaku selalu mengedepankan aturan yang sudah menjadi kesempatan bersama.

Juri wajib menjalkan tugas dengan fair play

Tidak ada pengecualian, semua diperlakukan sama. Semisal untuk tiket, harga dipatok maksimal Rp 50 ribu dengan hadiah kejuaraan berupa beras dan minyak. Untuk juara 1 hadiah beras 5 kg plus minyak goreng 2 kg. Juara 2 hadiah 3 kg beras plus minyak goreng 1 kg sampai juara 3. Untuk juara 4 sampai 10 mendapatkan beras 3 kg. Jika ada juara 11 sampai seterusnya, pemenang mendapatkan minyak 1 kg.

Sedangkan untuk doorprize, disepakati bahwa setiap blok anggaran harus senilai 250 ribu. Namun jika ada sponsor atau bantuan, maka anggaran doorprize bisa, namun dengan catatan penyelenggara harus memberitahukan pada peserta bahwa hadiah yang dikeluarkan pada saat itu lebih dari 250 ribu karena ada sumbangan atau sponsor, sehingga tidak sampai mengganggu kesepakatan bersama.

Kelas Piyik Hanging wajib ada dalam setiap kegiatan

“Jika sebuah penyelenggaraan mendapatkan sponsor, sehingga nilai doorprize melebihi dari anggaran 250 ribu perblok, maka harus disampaikan kepada peserta, sehingga semua tahu bahwa hadiah kali ini lebih besar karena ada sumbangan, sehingga penyelenggaraan berikutnya akan kembali pada asal,” ungkap Kades H.Matsin. Selain itu, anggaran untuk juri, semua dibuat rata.

Artinya tidak ada juri nasional, senior atau pemula, semua mendapatkan honor sama. Faktor lain yang menjadikan kegiatan ini memiliki daya tarik luar biasa adalah, membatasi burung dengan nilai maksimal dua warna hitam (43 1/4). Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada pemilik burung dengan nilai mentok dua warna hitam agar memiliki kesempatan dan peluang untuk menjadi juara.

Honor juri sama, tidak melihat status dan posisi

Menurut H.Matsin selama ini pemilik burung dengan kualitas tersebut, tidak pernah bisa lagi meraih juara ketika berlomba. Padahal mereka sudah terlanjur punya. Lantas mau dikemanakan burung-burung tersebut. Nah, dengan program inilah, mereka masih bisa merasakan kemenangan yang selama ini menjadi harapan kung mania l.

“Banyak rekan-rekan yang punya burung dua warna hitam yang merasa bingung dan hampir putus asa karena tidak bisa lagi ada kesempatan menang. Lewat Kol-Nil ini kami mengembalikan semangat mereka,” sambung pemilik Bintang Surya Bird Farm Bluto. Ketika mereka menang dan bisa membawa pulang hadiah, baik beras ataupun minyak, ada rasa senang dan bangga sekaligus kembalinya semangat untuk terus menekuni hobi perkutut.

Kualitas perkutut maksimal harus dua warna hitam

“Ada cerita, dimana ada pemain lama dan baru yang punya burung hanya dua warna hitam, selama ini mereka bingung karena tidak bisa ada peluang untuk menang. Namun saat ikut di Kol-Nil dan akhirnya menang, mereka lantas muncul semangat lagi,” tambah Ketua Pengda Sumenep. Bahkan saat membawa pulang hadiah beras atau minyak, istri di rumah juga ikut aenang.

Dan kung mania ini merayu istinya untuk membeli burung lagi dan si istri juga mendukung keinginan tersebut. “Kenyataan seperti ini yang saya harapkan sehingga ada kesinambungan hobi karena didukung oleh keluarga. Suami bos terus berlomba dengan dukungan dan doa sang istri,” lontar Kades H.Matsin. Yang tidak kalah penting dalam mendukung sukses kegiatan Kol-Nil di Sumenep,

Peserta harus ikuti aturan, jika tidak maka sangksi akan menunggu

Pengda berusaha untuk menerapkan aturan yang ada. Juri dituntut fair play. jika tidak bisa, maka silahkan untuk minggir. “Saya selalu tekankan kepada juri agar bisa fair play, jangan pandang bulu. Jika burung saya memang tidak layak, jangan sekali-kali dikasih nilai lebih,” kata H.Matsin lagi. Begitu juga untuk peserta. Wajib hukumnya peserta mengikuti aturan, jangan melakukan tindakan anarkis, membuat keributan dan menjadi provokator.

Jika ada yang melanggar, maka akan ada tiga kali peringatan. Sanksi berupa larangan untuk tidak berlomba selama 1 tahun menjadi hukuman yang harus diterima. “Di Sumenep sudah ada beberapa peserta yang kena pinalti tidak boleh ikut kegiatan di Sumenep selama 1 tahun karena sudah melanggar aturan. Ini sebagai pembelajaran bagi yang lain untuk tidak melakukan hal yang sama,” tegas H.Matsin.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.