Connect with us

Perkutut

Pengda Bangkalan Undang Seniman Lukis, Ahli Desain Grafis dan Pengrajin Sangkar, Ada Apa Gerangan ?

KONBUR Tayang

:

Tidak seperti biasanya, showroom CTP Bird Farm Bangkalan yang selalu didatangi kung mania dengan berbagai tujuan, kali ini ada tamu berbeda. Minggu, 13 Februari 2022, farm yang berlokasi di Jalan Jokotole Karang Butoh, kedatangan orang-orang yang berasal dari komunitas seniman lukis, ahli desain grafis dan pengrajin sangkar.

Markas CTP Bird Farm Bangkalan kedatangan tamu istimewa

Kehadiran mereka disambut langsung oleh pemilik showroom yakni Ir.R.Moh.Mahmud dan beberapa pengurus Pengda Bangkalan. “Hari ini saya sengaja mengundang beberapa stakeholder yang berasal dari luar komunitas perkutut, saya punya tujuan khusus pada mereka untuk membantu merealisasikan program Pengda Bangkalan,” tegas Ir.R.Moh.Mahmud.

Saat ini Pengda Bangkalan lagi bersemangat. Pasca Rakerda pada 03 Februari 2022 lalu, organisasi yang diketuai Ir.R.Moh Mahmud langsung bergerak melakukan langkah nyata, merealisasikan program yang disampaikan lewat tema acara yakni Meningkatkan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Hobi Perkutut.

Akademi Juri Profesional yang menjadi program kaderisasi juri yunior menjadi agenda yang sudah dieksekusi lewat program Latihan Dinilai setiap Kamis di Lapangan Pengda Mlajah Bangkalan. Diharapkan dengan program tersebut bisa meningkatkan jam terbang, mental dan kemampuan juri yunior dalam menilai suara burung.

Ir.R.Moh.Mahmud (kanan) sambut langsung tamu non kung mania

Tidak hanya juri yang menjadi sasaran tembak dalam kegiatan tersebut, program Akademi Juri Profesional juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kung mania terhadap sistem penilaian suara burung dan menambah jam terbang serta mental burung lomba. Dengan demikian komponen yang ada di dalamnya bisa meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.

Setiap peserta yang ingin mengikuti kegiatan ini tidak dipungut biaya alias gratis, tidak ada hadiah, tidak boleh protes dan dilarang emosi. Semua penilaian diserahkan pada juri yang bertugas. Nah, program lainnya adalah membidik produksi sangkar perkutut dengan nilai seni level atas. Demi menghasilkan sebuah karya seni seperti yang dimaksud, maka harus menyertakan ahlinya.

Maka diputuskan untuk menghadirkan stakeholder yang akan mewujudkan mimpi menjadi sebuah kenyataan. Ada 8 nama yang masuk daftar tamu khusus. Tiga nama berasal dari komunitas seniman lukis “Idiot” Bangkalan, mereka adalah Edy seniman aliran abstrak, Adrian seniman aliran dekoratif dan Juhari seniman aliran realistis.

Diskusi panjang bahas soal produksi sangkar seni tinggi

Tamu khusus lainnya adalah Rosi master desain grafis asal Socah yang meniti karier disebuah perusahaan ternama di Surabaya serta empat orang pengrajin sangkar asal Jaddih Bangkalan masing-masing adalah Rasidi, Mat Shaleh, Musni dan Matnawi. Dalam pertemuan tersebut mereka berdiskusi menentukan konsep yang akan dipilih.

Masing-masing stakeholder diberikan kesempatan untuk menyampaikan ide, gagasan serta pengalaman sesuai bidang masing-masing. Ketua Pengda Bangkalan sendiri mencoba menuangkan keinginan, membuat sebuah produk bernama sangkar perkutut dengan nilai seni yang tinggi.

“Selama ini beberapa karya seni sangkar yang bernilai tinggi, bahan dasarnya berasal dari Bangkalan ketika sudah berada di tangan mereka, harga yang dipasang luar biasa mahalnya. Saya berfikir kenapa Bangkalan tidak bisa melakukan hal seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi, makanya saya selalu cari tahu,” ungkap Ir.R.Moh.Mahmud.

Hadirkan seniman lukis, desain grafis dan pengrajin sangkar

Pertemuan kali ini diharapkan bisa mendapatkan jawaban. Acara yang lebih banyak mengutamakan diskusi, akhirnya menghasilkan solusi bahwa sangkar perkutut dengan bandrol mahal disebabkan oleh karya seni bernilai tinggi yang ada pada sangkar tersebut. Semua itu harus diciptakan agar produk yang akan diproduksi bisa memancarkan seni tingkat tinggi.

Kolaborasi antara ketiga stakeholder yakni pengrajin sangkar, desain grafis dan seniman lukis diharapkan bisa menjadi akhir dari sebuah pertanyaan. Masing-masing memiliki peran yang sangat menentukan hasil akhir. Pengrajin sangkar memiliki tugas untuk menyediakan bahan mentah yang siap dieksekusi.

Desain grafis menyediakan obyek sangkar dalam format tiga dimensi, detail-detail warna dari tiap-tiap item akan ditampilkan secara jelas dan gamblang. Sedangkan seniman lukis yang akan mewujudkan produk sangkar seperti harapan. Tahapan-tahapan proses inilah yang diharapkan bisa berlangsung dalam komunikasi dan koordinasi yang baik dan lancar.

Para seniman lukis dilibatkan dalam proyek Pengda Bangkalan

Adrian mengaku sudah punya konsep yang akan diaktualisasikan dalam bentuk hasil karya. “Saya sudah ada pandangan nanti seperti apa sangkar yang akan diproduksi. Pokoknya sudah ada dalam pikiran, tinggal mewujudkan saja,” terang Adrian. Begitu juga dengan Rosi. “Pokoknya saya siap menjalankan tugas sesuai keinginan bersama dan terbaik,” jelas Rosi.

Rasidi yang mewakili para pengrajin nampaknya sudah tidak sabar untuk segera memulai proyek ini. “Saya sudah tidak sabar untuk segera memulainya, saya harap sangkar ini nanti, produknya bisa memiliki nilai seni yang lebih bagus dan lebih tinggi,” harap Rasidi.  

“Alhamdulillah akhirnya kami menemukan sebuah jawaban dan apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkan produksi sangkar dengan kualitas terbaik, berlevel seni tinggi,” sambung Ir.R.Moh.Mahmud. program lainnya yang juga menjadi bidikan Pengda bangkalan adalah budidaya pakan perkutut berupa milet.

Sangkar bernilai seni tinggi jadi proyek Pengda Bangkalan

Milet yang selama ini menjadi kebutuhan utama dari perkutut, seringkali mengalami kendala dalam pasokan dan harga. Krisis milet dan harga yang melambung seakan menjadi momok yang harus diakhiri. Sudah saatnya organisasi memikirkan bagaimana menemukan solusi terhadap ketergantungan milet dari luar (impor).

Pengda Bangkalan mencoba melakukan riset yang bekerjasama dengan beberapa pihak seperti petani, dinas terkait yakni Dinas Pertanian, para ahli dibidang budidaya pengembangan pakan untuk memastikan kelayakan, kesiapan dan peluang untuk bisa menjadikan milet sebagai kesibukan baru untuk dikembangkan.

“Kami sedang melakukan analisa dari berbagai sumber, apakah milet bisa dikembangkan di Bangkalan. Jika memang bisa apa saja yang perlu kami siapkan dan apapulah langkah-langkah yang harus kami ambl untuk merealisasikan program budidaya milet. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah kami dapatkan hasil kesimpulannya,” ungkap Ir.R.Moh.Mahmud.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.