Connect with us

Perkutut

Naga Biru Bird Farm Kalianget Sumenep, Proses Panjang yang Melahirkan Produk Unggulan Berprestasi di Arena Konkurs

KONBUR Tayang

:

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Setiap peternak selalu berharap bisa mencetak produk unggulan yang mampu menggapai prestasi apik di arena konkurs. Namun terkadang harapan tersebut tidak selamanya bisa terwujud. Banyak faktor yang harus dipenuhi dan dialami sebelum proses keberhasilan itu benar-benar sudah dalam genggaman.

Proses panjang Naga Biru dalam menekuni ternak perkutut

Jumadin pemilik Naga Biru Bird Farm Kalianget Sumenep mengaku mengalami hal yang kurang menguntungkan ketika pertama kali menekuni ternak perkutut awal 2005 lalu. Saat itu, harapan besar untuk mendapatkan produk impian ternyata bukan sesuatu yang muda dan gampang, sebaliknya harus dibayar dengan pengorbanan.

”Saya mulai ternak 2005, tapi saat itu bisa dikatakan gagal terus, hasil produksi kurang maksimal. Padahal indukan yang saya dapatkan dari beli ke beberapa peternak dinilai sudah bagus-bagus,” ungkap Jumadin. Kenyataan pahit tersebut, ia jadikan sebagai cambuk untuk terus berusaha untuk bisa mengungkap masalah yang terjadi.

Jumadin (kiri) hobi yang mendapatkan support sang istri

“Saat itu saya tidak putus asa, malahan membuat saya berusaha mengetahui apa yang menjadi kegagalan ternak perkutut,” sambungnya. Lewat sharing dari beberapa rekan sesama peternak, ada pemahaman baru yang didapat dan bisa disimpulkan. Sampai akhirnya ia mencoba melakukan berbagai cara agar produknya bisa lebih berkualitas.

Jumadin harus melakukan tata ulang indukan, mencari formasi indukan yang dirasa pas dan cocok serta menambah indukan yang memang dibutuhkan. Proses tersebut memang tidak singkat dan butuh waktu yang panjang, pemikiran yang fokus serta tambahan biaya yang sudah tidak terhitung lagi.

Dukungan keluarga dan rekan menjadi modal menuju keberhasilan

Pelan namun pasti, lambat tapi mengarah ke sasaran, produk ternaknya mulai menunjukkan perubahan yang lebih baik. Anakan yang awalnya tidak bisa dinikmati sauranya, mulai menemukan kepastian. Senyum mengembang terpancar dari wajah Jumadin. Beberapa kandang ternak melahirkan produk yang selama ini diidam-idamkan.

Jika selama ini ketika Jumadin turun lomba dan pulang hanya membawa sangkar berisi perkutut di dalamnya, kini ada tambahan benda yang dibawa serta, seperti trophy, piagam ataupun beras sebagai bukti kemenangan atas perkutut orbitannya. Bahkan prestasi tersebut diraih lewat produk ternak dari kandang sendiri.

Jumadin akhirnya mampu membuktikan kualitas produk ternaknya

Sederet kandang yang sukses melahirkan juara di lapangan adalah Kandang NB A3 (Naga Muba x Naga Biru). Dari kanang ini lahir jawara bernama Pangeran. Kemudian andang NB A6 (Naga Biru x TGM), memunculkan orbitan bernama Sangkuni. Kandang lain adalah NB B3 (Januar x Komit), lahir produk bernama Aku Rindu.

Kandang berikutnya yang tidak kalah dalam mencetak produk unggulan adalah NB 333 (Anak Naga Muba x Discovery), kandang NB B1 (Naga Biru x Naga Biru) dan kandang NB B7 (Jaya Mas x Naga Biru). Rata-rata produk Naga Biru yang moncer di lapangan dibekali dengan kualitas suara tiga warna.

Sharing bersama rekan sesama mania rutin dilakukan

Sehingga memudahkan orbitan miliknya cepat dan mampu meraih juara meski harus berhadapan dengan lawan yang sudah memiliki nama besar dan jam terbang yang sudah banyak. Menurut Jumadin, penghuni kandang ternak tersebut merupakan pengembangan dari kandang NB A.7 (Naga Muda x Bamara) dan NB A.1 (AKN x AKN).

Dari anakan yang lahir, akhirnya disebar ke beberapa kandang lain untuk dijadikan indukan. Pengembangan inilah yang membuat prosentase indukan yang dipakai mayoritas sudah menggunakan ring sendiri. “Saat ini saya sudah punya 48 kandang, indukan sendiri hampir berjumlah 70 persen,” sambung Jumadin.

Bukti dukungan yang begitu luar biasa dari keluarga

Dari sekian produk yang sudah menyapa lawan di lapangan, Jumadin mengaku bahwa aa juga yang sudah tersebar ke beberapa pemain dan juga penghobi rumahan. Diakui bahwa jika sudah jatuh ke penghobi rumahan, maka produknya tidak akan pernah diketahui prestasinya karena secara kualitas tidak pernah teruji.

“Kadang ada rasa yang kurang pas ketika ada burung yang dibeli dan ternyata tidak dilombakan dan hanya dijadikan penjaga rumah, dinikmati suaranya sama orang tersebut, padahaln secara kualitas, burung itu layak dilomba dan berpeluang bisa jadi juara. Ini sangat-sangat saya sayangkan,” ungkapnya lagi.

Naga Biru BF Kalianget, eksistensinya tidak perlu diragukan lagi

Namun mau dikata, semua sudah menjadi bagian dari sebuah perjalanan ternak perkutut. Ketika burung itu dibeli orang dan akhirnya tidak masuk lapangan, maka kualitasnya tidak akan pernah diketahui. “Ada kesenangan dan kebanggaan tersendiri ketika ternakan kita dibeli orang dan moncer di lapangan,” katanya lagi.

Karena yang pasti prestasi adalah sebuah bentuk pembuktian bahwa produk ternak kita memiliki kualias yang tidak bisa dianggap enteng. Namun hal itu kadang tidak pernah dipahami orang lain. Mereka dengan santainya, menjadikan produk tersebut sebagai barang rumahan yang tidak pernah dipamerkan ke orang lain.

Jumadin bersama Naga Biru BF miliknya berharap terus eksis

Kini Jumadin bersama Naga Biru Bird Farm miliknya terus melakukan upaya pengembangan indukan agar bisa tetap menemukan dan mencetap produk unggulan yang akan menemaninya ketika menuju arena konkurs. Setidaknya dengan mengorbitkan burung bergelang sendiri, ada kebanggaan dan kepuasan yang dirasakan.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.