Connect with us

Perkutut

Liga Perkutut Sumenep 2023, Lima Putaran Sukses Tergelar Tanpa Bebani Penyelenggara, Bukti Kolaborasi Kuat Antara Pengurus, Panitia, Pengcam dan Juri

KONBUR Tayang

:

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Liga Perkutut Sumenep (LPS) 2023 sudah tergelar 5 kali dari rencana 10 putaran yang sudah dijadwalkan. Dari catatan yang bisa disimpulkan bahwa kegiatan ini benar-benar menjadi sebuah prestasi bagi Panitia Liga Perkutut Sumenep 2023 yang diketuai oleh H.Matsin. Beberapa poin penting yang bisa dijadikan acuan bahwa kegiatan tersebut dinilai sukses.

Kontribusi juri Sumenep memberikan harapan besar bagi semarak hobi perkutut

Pertama, selama lima putaran berlangsung, LPS selalu mendulang prestasi dalam perolehan peserta. Kelas Dewasa Bebas, Piyik Yunior dan Piyik Hanging yang menjadi partai tetap dalam agenda ini selalu dipenuhi peserta. Minimal dua blok peserta di masing-masing kelas selalu terisi penuh oleh mereka yang gila lomba.

Bahkan tidak jarang, panitia harus menolak peserta karena tiket yang disediakan sudah ludes terjual. Untuk menambah jumlah blok, sepertinya tidak mungkin, karena selain alasan waktu yang sudah mepet, lokasi yang dipakai juga tidak mungkin untuk menambah jumlah blok yang sudah mereka rencanakan.

Seperti dalam kegiatan LPS Putaran 5 di Lapangan Lavida BF Aend Dhake Bluto, Minggu 11 Juni 2023. Tiga blok dari masing-masing kelas yang dibuka, panitia masih menambah 1 blok di kelas kerekan (Dewasa Bebas, Piyik Yunior dan Piyik Hanging). Penambahan tersebut nampaknya tidak menjadi solusi, karena masih ada kung mania yang belum kebagian.

“Kami sudah menambah jumlah blok untuk kelas yang dilombakan, tapi ternyata masih ada yang belum kebagian tiket, tapi kami tidak mungkin menambah lagi karena waktunya sudah mepet dan lokasi yang kami gunakan tidak cukup,” terang H.Lutfianto, selaku tuan rumah Liga Perkutut Sumenep Putaran 5.

H.Matsin Ketua LPS 2023 (kanan) bersama H.Lutfiyanto Lavida BF

Catatan kedua, meski kegiatan LPS ada yang digelar bukan hari Minggu atau hari libur, namun antusias peserta untuk  mengikutinya tidak pernah surut. Beberapa kegiatan LPS yang digelar pada hari Sabtu seperti LPS Putaran 3 yang diadakan oleh Pengcam Lenteng pada Sabtu, 18 Maret 2023 dan LPS Putaran 4 oleh Pengcam Kalianget pada Sabtu, 20 Mei 2023.

Pilihan menggunakan diluar harii libur disebabkan oleh padatnya kegiatan lain di daerah terdekat yakni Pamekasan, sehingga panitia LPS harus mengalah dan tetap menggelar agar jadwal yang sudah mereka tentukan tidak sampai bergeser lagi. “Kegiatan LPS dua kali kami gelar dengan waktu yagn mepet dengan kegiatan di Pamekasan, kami gelar Sabtu dan Minggunya di Pamekasan,” terang Adi Sis salah satu panitia LPS.

Meski terkesan kurang pas, karena dua kota ini adalah tetangga, namun panitia LPS tetap melaksanakan kegiatan karena khawatir kalau ditunda akan berepengaruh pada putaran berikutnya. Meski kegiatan LPS hanya berkaraj 1 hari dengan kegiatan tetangga, namun antusias peserta tetap tinggi untuk mengikutinya.

Catatan ketiga, selama pelaksanaan LPS, beberapa Pengcam di Sumenep yang mendapatkan jatah sebagai penyelenggara mengaku tidak pernah merasa rugi. Adi Sis selaku panitia LPS membuktikan hal tersebut dengan catatan akhir, saat kegiatan LPS selesai. Dari data yang disampaikan kepada seluruh panitia penyelenggara, semua mash memiliki keuntungan meski tidak besar.

M.Matsin (dua kiri) diapit Adi Sis (kiri) dan Wawan (kanan)

“Alhamdulillah dari catatan yang saya miliki, penyelenggara dalam hal ini Pengcam, tidak sampai rugi meski kegiatan ini mengalir setiap bulan. LPS 203 yang sudah kami gelar ini tidak pernah rugi, malah selalu ada hasilnya setiap putaran,” terang pria yang berprofesi sebagai salah satu juri milik Pengda Sumenep.

Mengapa bisa demikian. H.Matsin yang ditunjuk menjadi Ketua Liga Perkutut Sumenep 2023, ternyata memiliki beberapa kiat. “Alhamdulillah amanah saya untuk menjadi ketua liga ternyata tidak sampai membuat rugi setiap penyelenggaraan, bahkan menurut catatan bendahara, selalu ada untung meski tidak besar,” jelas H.Matsin.

Sebelum agenda LPS ini dinyatakan start, panitia LPS bersama Pengcam yang ada di Sumenep menggelar pertemuan penting untuk membahas langlkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan liga. Seluruh pengurus, mulai dari tingkat bawah yakni Pengcam, Panitia Liga dan Pengurus Pengda, diminta hadir.

Dalam forum inilah, seluruh rencana, masukan, ide, gagasan dan keinginan, disampaikan. Poin yang didapat dalam kegiatan tersebut adalah. Pertama, bahwa ada biaya standart yang harus dipatuhi dan dilakukan oleh setiap penyelenggara. Adapun biaya standar yang mereka sepakati adalah bahwa untuk hadiah doorprize perblok harus maksimal Rp 250 ribu.

H.Matsin berhasil membawa LPS sesuai harapan kung mania

Hal itu dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan dari satu penyelenggara dengan yang lain. Karena setiap Pengcam memiliki tingkatan berbeda, sehingga untuk menyelaraskan dan menyamakan kemasan, hal itu harus dilakukan. “Saya tidak ingin ada kegiatan LPS punya kemasan yang berbeda, apalagi sampai terkesan obral dan mewah, karena akan berdampak pada yang lain,” ungkap M.Matsin lagi.

Lebih lanjut disampaikan, mungkin ada salah satu Pengcam yang punya koneksi bagus dari sponsor, sehingga mudah mendapatkan bantuan, tetapi bagaimana dengan yang lain. Sebab jika hal itu dibiarkan, maka dikhawatirkan Pengcam atau penyelenggara yang tidak memiliki akses banyak, akan merasa minder dan pesimis untuk menjadi tuan rumah.

Poin Kedua, juri memberikan kontribusi dalam setiap penyelenggaraan LPS. Juri  yang dimasudkan adalah juri asal Sumenep. Artinya jika LPS harus mendatangkan juri dari luar, maka syarat tersebut tidak berlaku. Adapun kontribusi juri untuk setiap penyelenggaraan LPS adalah sebesar Rp 100 ribu untuk juri nasional, Rp 85 ribu untuk juri senior dan Rp 75 untuk juri yunior.

Ternyata kontribusi tersebut tidak hanya honor, tetapi juga transport juri Sumenep sebesar Rp 50 ribu, juga menjadi hak penyelenggara. Artinya bahwa kontribusi juri untuk setiap penyelenggaraan LPS adalah honor dan juga transport. Langkah ini mungkin terbilang ekstrim, namun sebenarnya tidak.

Awalnya ada beberapa juri yang menolak, namun pada akhirnya mereka ikut mendukung karena dinilai akan memberikan dampak positif pada perkembangan hobi perkutut, khususnya di Sumenep. “Saya kira program ini bisa diterima karena dampaknya juga akan dirasakan oleh juri, sehingga mereka harus mendukung,” terang Wawan, juri nasional Sumenep.

Liga Perkutut Sumenep 2023 di Kelas Piyik Hanging selalu ramai oleh peserta

Adi Sis mengatakan hal yang sama. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mendukung program LPS, karena juri adalah bagian dari program dan kegiatan ini. Saya kita teman-teman harus mendukung. Lihat sisi positifnya saja,” sambung Adi Sis.

Menurut H.Matsin, logikanya begini. Selama ini juri mendapatkan tugas dalam setiap kegiatan di Sumenep. Ada honor yang mereka terima. Semakin banyak kegiatan, maka apa yang mereka terima akan semakin bertambah. Soal besar kecilnya, tergantung dari kegiatan yang mereka ikuti. Masih menurut H.Matsin, namun perlu diingat bahwa tidak selamanya penyelenggara mendapatkan keuntungan dari kegiatan yang mereka adakan.

Bisa untung dan tidak jarang rugi. Dengan pemikiran seperti itulah, akhirnya dibuat sebuah rencana untuk mendukung LPS agar bisa tetap eksis. ”Kalau setiap kegiatan penyelenggara rugi, siapa yang mau menggelar, pasti mereka menolak dengan alasan yang beragam, makanya saya ingin ada dukungan dan support, termasuk dari juri,” ungkap Ketua LPS 2023.

Lebih lanjut disampaikan jika LPS jalan, maka juri juga akan mendapatkan dampaknya. “Awalnya usulan ini menjadi pro dan kontra tapi akhirnya setelah dilakukan pendekatan, mereka bisa menerima. Sebab, kalau LPS macet, maka jurinya gak bisa jalan, sebaliknya kalau LPS jalan terus, maka juri bisa kerja,” kata Kepala Desa di salah satu wilayah di Bluto Sumenep.

Disampaikan juga bahwa kontribusi juri pada penyelenggara hanya berlaku pada gelaran Liga perkutut Sumenep 2023. sedangkan untuk kegiatan lain, hal itu tidak berlaku dan juri kembali menerima honor normal. “Kontribusi juri hanya berlaku di Liga Perkutut Sumenep saja, untuk kegiatan lain, maka mereka akan menerima honor normal lagi,” kata H.Matsin lagi.

Poin ketiga, hadiah yang diberikan kepada para pemenang berupa trophy dan piagam. Awalnya ada pemain yang ingin hadiah berupa sembako, tapi panitia tetap pada keputusan tersebut. “Pertimbangan kami pakai trophy dan piagam, karena masukan dari Pengcam atas usulan komunitas kaum bawah. LPS yakin meski tetap pakai trophy dan ternyata sukses terus,” kata M.Matsin.

Ditambahkan bahwa dengan penggunaan trophy dan piagam akan memancing pemula. Dan terbukti saat ini peserta LPS didominasi oleh pendatang baru. Hal ini menjadi bukti bahwa apa yang sudah menjadi keputusan bersama, pada akhirnya membuahkan hasil. Poin keempat, kerjasama yang bagus semua pihak dalam mendukung sukses LPS.

“Saya bersyukur punya team yang solid. Mereka bersedia mendukung, pensupport keberhasilan LPS. Kolaborasi antara semua elemen yang ada di organisasi perkutut di Sumenep, berjalan sesuai harapan. Ini yang menjadi kekuatan kami untuk bisa terus eksis dalam menekuni dan memeriahkan hobi,” tambah H.Matsin lagi.

Adi Sis menambahkan bahwa untuk kegiatan perkutut di Sumenep dengan menghadirkan peserta dalam jumlah 7 blok, rasanya tidak perlu mendatangkan peserta dari luar. Kung mania di Sumenep, temasuk dari daratan dan kepulauan, sudah bisa memenuhi. Namun jika ada dukungan dari luar, maka itu adalah sebuah wujud kebersamaan yang harus tetap dipertahankan.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.