Connect with us

Perkutut

Kaba-kaba Team Tabanan Orbitkan Tetasan Sendiri: Tak Nyana dan Tak Kusangka Tak Disangka Melejit di LPB Seri IX

KONBUR Tayang

:

de
PUTU ARTA DAN KADEK TIRTAYASA: Bersama Peternak Kaba-kaba yang Lain Saling Dukung Kembangkan Materi

KESIBUKAN Kaba-kaba Team di antaranya dua sang pentolan Putu Arta dan Kadek Tirtayasa dalam usahanya masing-masing menyulitkan membagi waktu agar bisa berlomba ke lapangan. Putu Arta sibuk menyelesaikan orderan ukiran bangunan Bali yang terus menumpuk, sedangkan Kadek Tirtayasa saban hari harus mengantarkan jagung giling ke pedagang-pedagang besar di Bali. Kadek Tirtayasa suntuk menggeluti di bidang pabrik penggilingan padi dan jagung yang omzetnya puluhan ton per hari.

de
PUTU ARTA: Bersama Peternak Kaba-kaba Lainnya, Saling Mengunjungi Berbagi Ilmu

Namun soal beternak perkutut, dua pentolan Kaba-kaba Team ini tidak pernah ketinggalan. Terlebih lagi ketika perkututan Bali yang semakin meriah dalam setahun terakhir ini.  Dari materi-materi yang sebagian besar import sejak dua tahuhan digodok, Genta BF dan juga Tirta Dewata BF sudah banyak menelorkan calon indukan dan cucu-cucu yang bisa diajak jalan-jalan ke lapangan. ‘’Saya sih kepingin ke lapangan bisa ketemu teman-teman. Tapi benar-benar terikat di rumah,’’ ujar Putu Arta yang didampingi Kadek Tirtayasa.

Tapi ketika Liga Perkutut Bali seri IX akan digulirkan, Made Adnyana dan juga Fahmi yang sering berkunjung ke Genta BF dan juga ke Tirta Dewata BF,  begitu berhasrat mengajak ring Genta dan Tirta Dewata ikut meramaikan LPB IX. Dari belasan anakan yang memiliki karakter suara yang mirip itulah satu di antaranya di ajak jalan-jalan turun di piyik hanging. Alhasil Tak Nyana berhasil bertengger di posisi keempat. Sementara Tak Kusangka bercincin Tirta Dewata yang diturunkan di kelas piyik yunior menyusul di posisi ke-6.

Memang Tak Nyana hanya duduk di kursi keempat. Tetapi kulitas suaranya begitu apik. Volume suara tipe besar dengan pukulan tengah triple tebal  dengan menaruh ujung yang sopan dan panjang. Sempat tiga kali mendapat dua warna hitam dan juga usulan ke tiga warna. Sayang kurang kerja justru di menit-menit terakhir. ‘’Walaupun masuk peringkat keempat saya bersyukur karena hasil tetasan sendiri, indukan dari Genta dengan Genta,’’ kata Putu Arta.

Tak Nyana merupakan satu dari belasan anakannya yang netas dari indukan Genta dengan Genta. Namun kakek neneknya adalah berasal dari import yang bersuara tipe besar seperti AD yang dominan tengah banyak dan ujung delosor, DTL yang depan berirama, ZNB, JHM, AY dengan suara super besar, serta BDC. Namun ada juga DWR Sidoarjo seperti k Bisma dan Canakya yang bermental bagus, Cakrawala, WAT, Cancan Banjarmasin yang kental berdarah Irama Agung, yang juga tipe volume besar serta Adipati BF yang dominan berirama. ‘’Kami banyak disupport dari Pak Dewa DWR dan juga Gustu Adipati serta sharing dengan Kaba-kaba Team,’’ imbuh Putu Arta.

de
TAK NYANA: Bertengger di Posisi Keempat Piyik Hanging, Putu Arta Tetap Bersyukur

Tak Nyana merupakan anak dari pasangan pejantan (AD dengan AD di Genta K1) dengan betina anak dari (DWR Bisma dengan DWR Canakya yang juga menghuni kandang Genta). Ada beberapa indukan yang memang dipersiapkan untuk basic kandang yang rata-rata tipe besar seperti ZNB dengan Adipati T666, Cakrawala T666 dengan Cakrawala T555, JHM dengan Cristal E7, AD dengan DTL berharap lahir suara besar – depan – tengah ujung yang panjang, AD dengan BDC, WAT dengan Cancan trah Irama Agung dll. Anak-anak inilah yang kemudian kembali menjadi basic Genta yang diharapkan bisa dipakai lomba seperti Tak Nyana.

Namun Genta BF dan juga 8 peternak yang tergabung di Kaba-kaba Team yang selalu sharing materi tidak menutup diri untuk memasukkan darah-darah baru. Sebagai peternak pinggiran, Putu Arta mesti terus berkarya. Jika tidak bisa terdepan, paling tidak bia mengikuti  dari belakang. Asalkan tidak ketinggalan. *agrobur3

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.