Connect with us

Perkutut

Ingin Menikmati dan Memiliki Perkutut Volume Besar dan Irama, di CMM Bird Farm Sidoarjo Tempatnya

KONBUR Tayang

:

Menekuni ternak perkutut sebenarnya bukan menjadi pilihan hidup bagi Miko. CMM Bird Farm yang akhirnya menjadi satu diantara sekian banyak peternak unggulan, diakui sebagai bentuk pengabdian untuk orang tuanya. “Saya menekuni ternak perkutut karena meneruskan hobi dan cita-cita orang tua,” terang Miko.

Saat kung mania Sidoarjo kunjungi CMM Bird Farm

Seiring perjalanan waktu, Miko mengaku ingin membuktikan dan menunjukkan bahwa apa yang dilakukan tidak akan mengecewakan. “Saat saya meneruskan cita-cita orang tua, satu yang ingin saya buktikan dan tunjukkan bahwa saya bisa melaksanakan apa yang selama ini menjadi harapan orang tua,” sambung bapak dua putra.

Awal menjalankan karier baru, Miko mengaku bahwa tipikal irama adalah trend yang begitu popular. Kemudian trend tersebut berganti menjadi suara besar efek dari masuknya produk import. Saat suara besar begitu ramai, Miko menyadari bahwa suara yang diperdengarkan terkesan kaku.

Andik Fortune BF berkontribusi pada CMM BF Sidoarjo

Nah, disaat itulah Miko tertantang untuk menciptakan suara besar namun memiliki irama yang indah dan tidak kaku. Ternyata, keinginan tersebut bukan saja merupakan targetnya bersama CMM Bird Farm Sidoarjo, tetapi juga beberapa peternak yang sudah ada sebelumnya.

“Terus terang saya memang penikmati perkutut dengan tipikal suara besar, namun harus diimbangi oleh irama yang indah, maka saya memulai pekerjaan baru untuk bisa mencetak produk sesuai keinginan saya,” sambung pria asal Nganjuk Jawa Timur. Sekitar 125 kandang ternak yang dimiliki menjadi lokasi eksperimen.

Senyum lebar kung mania Sidoarjo saat berada di CMM BF

Miko mengaku langsung mendatangkan indukan import lewat Andik Fortune Bird Farm. “Kebetulan saya kenal baik dengan Kho Andik Fortune, makanya saya meminta bantuan untuk mendatangkan indukan sesuai harapan saya,” terang Miko lagi. TL dan ZNB menjadi indukan import yang sengaja didatangkan untuk merealisasikan keinginan tersebut.

Menurut Miko alasan pemilihan produk import dari TL dan ZNB berdasarkan analisa yang tidak asal. “TL dan ZNB memiliki tipikal suara yang saya inginkan. ZNB volume besar sedangkan TL lebih ke irama,” sambungnya lagi. Sejak saat itu indukan kandang yang awalnya didominasi indukan made in Indonesia, diganti dengan perkutut merk import.

Miko sukses jadikan CMM BF sebagai farm unggulan

Bersama beberapa indukan lainnya, seperti TOP, Miko memulai proyek besar tersebut pada tahun 1989 lalu. Bongkar pasang indukan menjadi rutinitas yang dilakukan selama masa proyek itu berlangsung. Miko mengaku tidak pernah kenal putus asa, belajar dan belajar menjadi aktifitas yang selalu dilakukan.

“Ketika itu saya tidak pernah berhenti belajar bagaimana mencetak burung volume besar dengan irama indah. Saya juga tidak segan-segan untuk mendatangkan indukan yang bisa merealisasikan keinginan. Bagi saya yang penting cita-cita untuk mencetak perkutut volume besar berirama bisa terwujud,” ungkap bapak berusia 54 tahun.

Miko bersama awak kandang yang setia setiap waktu

Tiga tahun proses tersebut dilalui, sampai akhirnya Miko bersama CMM Bird Farm Sidoarjo berhasil menghadirkan produk sesuai harapan. “Saat ini hasil ternak saya rata-rata volume besar dan irama sudah kelihatan,” lanjut Miko lagi. Beberapa kandang yang sudah berhasil menghadirkan produk unggulan adalah Kandang CMM K.1 (TL 13 x ZNB 88).

Ada juga kandang CMM K.2 (TL 46 x Pattani 12). Dari kandang ini muncul perkutut berprestasi dengan nama Marques. Soal kualitas, jangan ditanya. Setiap kali turun lomba selalu berhasil membawa pulang trophy kejuaraan. Selain itu Kandang CMM K.8 dengan formasi indukan jantan ZNB 29 berpasangan dengan ZNB 3.

Miko akhirnya berhasil wujudkan keinginan orang tua

Kandang lainnya CMM A.1 (TL 444 x ZNB 13), CMM K.19 (TOP FFF x TL 888). Untuk kandang yang banyak diburu kung mania adalah CMM K.27 (TOP A10 x TOP 666A) dan CMM K.29 (TOP 28 x TOP 000B). Menurut Miko dari kandang CMM 27 dan CMM 29 banyak yang cari anakannya, termasuk H.Iwan Jombang boyong anakan kedua kandang tersebut. Bahkan anakan yang masih diranji dalam kondisi masih diloloh, langsung diangkut oleh H.Iwan.

Diakui oleh Miko bahwa dari kandang CMM 29 muncul anakan berprestasi dengan nama Lapindo. Saat ini burung tersebut berada di tangan Hendry Manila Bandung. Kandang lain yang juga menghadirkan produk unggulan adalah CMM E.1 dengan formasi indukan TOP E.5 bersama pasangannya TOP C.2.

Ingin nikmati dan miliki perkutut volume besar irama, disini tempatnya

Dari kandang ini muncul perkutut bernama Podomoro yang sudah resmi dipinang H.Iwan Jombang. Sampai saat ini Miko mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar. Banyak peminat yang belum bisa mendapatkan produk CMM. Keberhasilan ini diakui bukan didapat secara mudah dan instan.

“Saya selalu berusaha mencari formula indukan yang mampu menghasilkan anakan bagus, mulai dari bongkar pasang indukan sampai mendatangkan indukan sesuai proyek saya. Yang paling penting dalam ternak perkutut adalah betina harus bagus, karena memiliki peran 60 perse, sedangkan indukan jantan dipakai untuk menutupi kekurangan betina,” papar pria yang berdinas di BKD Provinsi Jawa Timur.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.