Connect with us

Perkutut

H.Djainuri Surabaya : Saat Konkurs Libur, Pengurus Pengwil dan Pengda Harus Perhatikan Nasib Juri

AGROBUR Tayang

:

Advertisements
Advertisements

Tidak dapat dipungkiri, kasus serangan virus Covid – 19, telah menghantam dan melumpuhkan sektor ekonomi. Dunia hobi perkutut tanah air menerima dampak dari merebaknya penyakit Corona. Juri menjadi salah satu elemen yang merasakan betul adanya intruksi dihentikannya seluruh agenda konkurs di tanah air yang sudah tersusun.

Advertisements
H.Djainuri pemilik Sultan Bird Farm Surabaya

Libur konkurs menjadi kabar duka bagi sebagian juri. Padahal sebelum kasus Corona mencuat, hampir dipastikan setiap minggu mereka bisa mendapatkan penghasilan saat tugas di lapangan. Bahkan even lokalan yang terjadi hampir setiap hari, menjadi tambahan bagi mereka. Namun semua itu, kini hanya tinggal kenangan.

Bagi mereka yang menjadikan profesi juri sebagai sampingan, mungkin liburnya konkurs tidak menjadi masalah, karena masih ada penghasilan lain. Sebaliknya mereka yang selama ini benar-benar mengharapkan penghasilan saat bertugas, pasti merasakan betul tertutupnya sumber dana untuk menyambung hidupnya.

Advertisements
Libur Konkurs jangan sampai lupa perhatikan nasib pelaku hobi

Inilah moment yang sebenarnya bisa dilakukan semua pihak, untuk bisa membuktikan kepedulian bagi juri. Juri yang selama ini menjadi partner kerja pengurus, harus tetap mendapatkan perhatian. H.Djainuri Surabaya mengatakan bahwa upaya beberapa pihak dengan menggalang donasi untuk memberikan bantuan pada juri, dinilai sudah bagus.

“Saya apresiasi pada mereka yang peduli kepada juri dengan memberikan bantuan materi, meski sebenarnya cara demikian tidak cukup dan belum menyelesaikan masalah,” tegas pemilik Sultan Bird Farm Surabaya. Menurutnya penggalangan dana yang dilakukan saat ini adalah upaya untuk memberikan tambahan bagi juri menjelang perayaan lebaran atau Idul Fitri.

Padahal juri yang selama ini menggantukan hidupnya dari konkurs, butuh aliran dana untuk menyambung hidup sebelum lebaran itu datang. “Kalau penggalangan dana hanya diberikan menjelang lebaran, lalu untuk makan saat ini dapat dari mana. Libur lomba sudah berlangsung kurang lebih satu bulan dan mereka tidak mendapatkan penghasilan,” terangnya.

Pengurus Pengwil dan Pengda harus perhatikan nasib juri saat libur konkurs

Perhatian pengurus seharusnya untuk saat ini dulu, karena kebutuhan tersebut sangat mendesak. “Apa yang kita berikan pada juri untuk saat ini mungkin bisa berupa beras atau makanan pokok lain, sampai penggalangan dana itu ditutup dan kemudian disebarkan. Kasihan juri yang selama ini berharap banyak pada kita,” lanjut H.Djainuri.

Karena yang pasti dampak virus covid – 19 ini telah menghentikan seluruh kegiatan kung mania, baik berupa latber, liga, lomba besar ataupun LPI sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Maka upaya penggalangan dana untuk juri pada saat menjelang lebaran atau Idul Fitri, menjadi pilihan berikutnya.

“Saya katakan bahwa saat ini Pengurus Pengwil dan Pengda sedang diuji. Seberapa peduli pengurus kepada juri yang selama ini menjadi salah satu elemen penting dalam hobi perkutut. Eksitensi mereka selama ini tidak bisa dianggap enteng. Karena merekalah, hobi perkutut bisa tetap ada sampai saat ini,” imbuhnya.

H.Djainuri berusaha tetap pantau perkembangan hobi perkutut

Lebih lanjut H.Djainuri mengatakan bahwa dengan tidak adanya kegiatan, maka mereka tetap butuh penghasilan agar bisa terus makan. “Pengurus harus memikirikan bagaimana juri bisa terus makan meski tidak ada lagi kegiatan, begitu juga dengan media yang tidak henti-hentinya memberitakan informasi, maka mereka ini harus kita pikirkan bagaimana nasibnya,” katanya lagi.

Menggandeng beberapa peternak besar dan juga pengusaha, adalah jalan terbaik untuk membantu juri dan juga media yang selama ini menggantungkan hidupnya dari konkurs. “Saat ini nilai kebersamaan kita diuji, kolaborasi Pengwil dan Pengda untuk memberikan dukungan bagi juri, benar-benar diharapkan. Jadi jangan hanya memikirkan konkurs saja tetapi sektor lain terbaikan,” katanya lagi.

H.Djainuri berharap juri bisa tetap makan saat libur konkurs

H.Djainuri menambahkan bahwa tugas kali ini bukan hanya milik Pengwil, tetapi juga harus diusahakan oleh Pengda, karena Pengda yang lebih dekat, lebih mengenal kondisi juri-juri yang dimiliki. Pengwil mungkin hanya sebatas memberikan support penuh untuk kelangsungan program kepedulian untuk juri.

Soal nilai yang harus diberikan kepada juri, H.Djainuri memberikan masukan bahwa jangan sampai menyamaratakan antara juri yang betul-betul menggantungkan hidupnya dari menjuri dan mereka yang menjadikan profesi juri hanya sebagai sampingan atau tambahan. Itulah keadilan yang sebenarnya.

Advertisements
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perkutut

Johan Saputra Gaza Bird House Yogyakarta : Tiga Bulan Stay Home Tanpa Kegiatan, Kapan Kami Bisa Beraktifitas Lagi

Published

on

Advertisements
Advertisements

Johan Saputra, salah satu kung mania pemilik Gaza Bird House Sleman Yogyakarta, pada Rabu 20 Mei 2020 membuat sebuah tulisan yang meluapkan rasa dan perasaan tentang kondisi hobi perkutut yang dirasakannya selama ini. Berikut tulisan Johan Saputra. Kepada yang Terhormat Bapak pemangku kebijakan P3SI baik Pusat maupun Daerah.

Advertisements
Saat Johan Gaza masih aktif dalam kegiatan hobi perkutut

Sudah 3 bulan sejak adanya pandemi covid-19, kami para penghobi dan peternak perkutut di seluruh Indonesia merasakan dampak yang begitu luar biasa, dampak yang juga dirasakan semua orang tanpa terkecuali. Waktu 3 bulan yang sudah kita jalani untuk stay di rumah aja tanpa ada agenda kegiatan perkututan.

Kegiatan yang dimaksud seperti konkrus dan latber, ternyata dirasa belum cukup waktu bagi kita semua untuk menyelesaikan wabah ini, bahkan pandemi ini belum dapat kita diprediksi kapan akan berakir. Pemerintah telah mengeluarkan pernyataan agar kita berdami dan siap untuk dapat hidup berdampingan dengan covid-19.

Advertisements
Johan Gaza merindukan bisa kumpul bersama rekan kung mania

Dan kini new normal sedang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat kita. Lalu apakah bapak-bapak para pemangku kepentingan di organisasi P3SI tercinta ini juga sudah berdiskusi bagaimana organisasi ini menyikapi new normal ??? Mudah mudahan sudah.

Tiga bulan Johan Saputra tanpa kegiatan hobi perkutut

Kami rasa cukup sudah waktu 3 bulan untuk kita dapat memahami karakter dari pandemi ini, kini waktunya organisasi menyiapkan protokol khusus untuk kembali menggiatkan roda ekonomi pada bidang perkututan, betul bahwa perkutut adalah hobi tetapi tidak dapat di pungkiri bahwa banyak teman kita yang  mengantungkan kehidupan ekonomi keluarganya dari kegitan perkututan ini.

Mulai dari peternak, pengrajin sangkar, juri, dan banyak lagi sektor usaha lain yang ikut terkerek oleh hobi kita ini. Sudah saatnya kita berfikir angenda konkrus baik daerah maupun pusat untuk dihidupkan kembali. Kita hanya perlu menambahkan perangakat perlombaan seperti adanya pengawas lapangan.

Hanya bisa menikmati suasa kandang ternak tanpa berlomba

Yang bertugas untuk memastikan setiap peserta yang hadir telah dan akan patuh dengan protocol covid-19, selama lomba berlangsung, semisal pemakaian perangkat pelindung diri, wajib seperti masker, sarana cuci tangan, dan sosial distancing atau jaga jarak kita praktekkan dengan baik.

InsaAlloh new normal dalam kehidupan perkututan akan segera terjadi dan masyarakat pecinta perkututan dapat kembali memeteik nilai ekonomis darinya. Kami semua yakin organisasi ini memiliki sumber daya yang lebih dari cukup untuk menyusun dan menyiapkan skema New Normal dalam setiap kegiatan organisasi.

Moment kebersamaan keluarga saat libur hobi perkutut

Dan selanjutnya kami penggemar perkututan seluruh Indonesia menunggu pengumuman agenda konkurs, baik daerah maupun nasialonal di gelar kembali, tentu dengan protokol dan SOP keamanan yang baik dan matang, serta selalu memperhatikan perkembangan covid-19 di wilayah masing-masing.

Selanjutnya bahwa apa yang saya sampaikan ini bukanlah dalam rangka bersikap acuh, enggan berpartisipasi dalam memutus mata rantai covid-19 ataupun ngeyel, tetapi apa yang saya sampaikan adalah pandangan saya tentang sebuah situasi dimana kita harus bisa eksis dalam kondisi ini sebagai perwujudan bahwa kita adalah manusia dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Johan Gaza berharap aktifitas hobi perkutut kembali dimulai

Kita semua percaya bahwa kita, para pencinta perkutut adalah pribadi-pribadi yang taat, pribadi-pribadi yang mampu, bijak menyikapi kondisi yang ada. Semoga Allah SWT, Tuhan YME, segera mengangkat pandemi ini. Teriring doa untuk para pejuang medis, semoga Allah memberiakan kekuatan, kesabaran dan kesehatan. Aamiin.

Advertisements
Lanjutkan Membaca

Perkutut

Baksos Team Bulldog Seri II, Dusun Banjar Dowo Desa Jeruk Wangi Nganjuk Jadi Lokasi Penyebaran 200 Paket Sembako

Published

on

Advertisements
Advertisements

Setelah sukses melakukan pembagian sembako sebagai dampak dari wabah Corona yang melanda tanah air beberapa waktu lalu, Team Bulldog kembali melakukan aksi serupa untuk yang kedua kalinya. Agenda ini menjadi target khusus bagi Team Bulldog untuk ikut merasakan betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh virus Covid-19.

Advertisements
Penyerahan secara simbolis bantuan Team Bulldog pada Lurah Desa Jeruk Wangi Nganjuk

Kegiatan yang dilakukan pada Kamis, 14 Mei 2020 dikawal langsung oleh Cak Goendul bersama Rudy Akasa Bird Farm, Unggul pemilik Unggul Bird Farm, Ipung Kazee Bird Farm dan Sapari KPOH Bird Farm. Kekompakan ini nampaknya menjadi kebiasaan yang selalu mewarnai perjalanan hobi perkutut Team Bulldog.

“Saya datang langsung dari Pandaan hanya untuk memberikan dukungan bahwa kami selalu kompak dalam setiap kegiatan Team Bulldog. Kekompakan kami tidak hanya terlihat dalam setiap agenda lomba, namun kegiatan apapun kami akan tetap selalu bersama,” terang Ipung.

Advertisements
Proses distribusi bantuan dari markas Team Bulldog Surabaya

Seperti misi sebelumnya, tujuan aksi ini adalah  tetap ingin berbagi bersama mereka sehingga bisa ikut mengurangi beban yang masyarakat rasakan. Jika acara pertama yang menjadi sasaran adalah warga Tenggilis Mejoyo Surabaya, kini Dusun Banjardowo Desa Jeruk Wangi Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk sebagai lokasi penyebaran bantuan.

Saat paket sembako dimasukkan mobil untuk dibawa ke Nganjuk

Pilihan pada lokasi ini memang bukan tanpa alasan. Cak Goendul mengaku mencari informasi dan melakukan survey sebelum menentukan pilihan. Banyak daerah yang sebenarnya menjadi lokasi terdampak wabah Corona, namun tidak mungkin bisa dijangkau dan diberikan bantuan semuanya.

Paket sembako dari Team Bulldog siap diberangkatkan

“Kebetulan ada rekan yang merekomendasi Dusun Banjardowo Desa Jeruk Wangi Nganjuk sebagai lokasi Baksos Team Bulldog Seri II. Setelah kami musyarawah akhirnya rekan-rekan yang tergabung dalam Team Bulldog menyetujui usulan tersebut. Jadi kami pastikan lokasi itu untuk menjadi sasaran kali ini,” jelas Cak Goendul.

Meski jarak yang mereka tempuh lumayan berada di luar Surabaya apalagi dengan kondisi di bulan Ramadhan, namun tidak sampai menyurutkan langkah mereka untuk merealisasikan. Lebih lanjut mentor Team Bulldog ini berharap agar bantuan yang menjadi agenda team tidak hanya bisa dirasakan masyarakat kota, namun juga bisa dinikmati oleh masyarakat desa.

Gotong royong warga yang membantu Team Bulldog saat di lokasi

Karena yang pasti dampak wabah Corona dirasakan seluruh masyarakat dari level atas sampai bawah. “Kami ingin masyarakat desa yang terdampak dengan adanya wabah Corona bisa juga merasakan apa yang kami lakukan,” imbuh Cak Goendul. Warsidi, Lurah Banjardowo Kecamatan Lengkok Kabupaten Nganjuk mengapresiasi apa yang dilakukan Team Bulldog.

Proses pemindahan paket sembako dari mobil kelokasi pembagian

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Rahmad dan juga rekan-rekan dari Team Bulldog atas apa yang sudah diberikan pada warga saya,” jelas Warsidi. Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan Team Bulldog untuk menyisihkan sebagian rejekinya demi membantu warganya tidak akan sia-sia.

Team Bulldog dan warga bahu membahu memindahkan paket sembako

Diharapkan apa yang dilakukan Team Bulldog pada warga Dusun Banjardowo Desa Jeruk Wangi Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk benar-benar akan memberikan manfaat bagi yang menerima bantuan. “Terus terang wabah Corona ini berdampak pada warga saya yang mayoritas sebagai buruh tani, kini hampir 30 persen kegiatan mereka mengalami penurunan,” katanya lagi.

Warsidi Lurah Desa Jeruk Wangi (kaos biru) menyerahkan bantuan pada warga

Setidaknya dengan bantuan ini, warga yang menerima bisa tersenyum. Sebanyak 200 paket sembako diberikan pada warga terdampak. Di Desa Jeruk Wangi sendiri saat ini ada sekitar 1035 warga dengan jumlah KK sebanyak kurang lebih 380. “Saya kira bantuan ini sudah setidaknya sudah bisa mengurangi beban yang dirasakan warga kami,” lanjut Warsidi.

Petugas Babinkamtibmas menyerahkan bantuan pada warga

Beberapa warga yang ditemui mengaku senang dengan program tersebut. “Alhamdulillah saya dapat sembako, bisa buat makan untuk beberapa hari kedepan,” kata Supar salah satu warga. Hal senada dilontarkan Lilis, warga lainnya. “Saya mengucapkan banyak terima kasih pada bapak-bapak yang telah memberi saya bantuan pada saya, semoga dibalas dengan yang lebih besar,” ucap Lilis.

Suasana penyerahan paket sembako disaksikan oleh Kepala Desa dan Petugas

Lebih lanjut Warsidi mengatakan bahwa tidak semua warga yang mendapatkan bantuan. Ada kriteria yang ditentukan, siapa saja yang berhak menerima bantuan tersebut. “Tidak mungkin semua warga dapat bantuan, saya buat kriteria warga yang berhak mendapatkan bantuan, mereka adalah keluarga tidak mampu, janda-janda dan lansia,” terang Warsidi.

Aksi solidaritas Team Bulldog di Dusun Banjardowo Jeruk Wangi Nganjuk

Cak Goendul pun berharap agar kegiatan ini bisa terus terlaksana, meski aksi yang dilakukan tidak seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya. “Yang pasti kami dari Team Bulldog masih ada kegiatan lanjutan, namun belum tahu akan dikemas seperti apa nantinya,” ungkap Cak Goendul mengakhiri obrolan dengan mediaagrobur.com.

Advertisements
Lanjutkan Membaca

Perkutut

Tombo Ati Bird Farm Bangkalan, Sukses Menyandingkan Dua Hobi, Burung Perkutut dan Keris Pusaka

Published

on

Advertisements
Advertisements

Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa hobi perkutut memiliki unsur misteri. Kepercayaan inilah kadang disambungkan dengan benda-benda berbau mistis, seperti halnya keris pusaka. Keduanya dinilai memiliki kesamaan yang bisa dilakukan sekaligus tanpa mengorbankan salah satu.

Advertisements
Sukron Amirullah bersama koleksi keris pusaka peninggalan sang Ayah

Kenyataan inilah yang sempat dilakoni H.Musa Bangkalan yakni menjadi peternak perkutut sekaligus kolektor keris pusaka. Namun dua hobi ini akhirnya harus ia akhiri ketika kematian menjemputnya. Sepeninggal H.Musa kedua hobi tersebut terus ada karena salah satu putranya yakni Sukron Amirullah meneruskan warisan sang Ayah.

“Sekarang saya meneruskan hobi Abah yakni ternak pwrkutut dan koleksi keris pusaka,” terang Sukron. Dirinya mengakui bahwa keputusan tersebut diambil bukan karena terpaksa, namun muncul dari hati yang paling dalam. Selama ini Sukron mengaku sudah senang perkutut dan juga keris.

Advertisements
Tombo Ati BF Bangkalan, sukses sangdingkan hobi perkutut dan keris pusaka

“Saya banyak belajar dari Abah saat masih ada, sekarang saya harus melanjutkan apa yang sudah Abah miliki,” lanjut Sukron. Ia mengakui bahwa tidak ada kesulitan yang berarti dan mengalami kendala saat harus meneruskan warisan tersebut karena Sukron sudah terbiasa melakoni.

“Saya tinggal meneruskan saja karena selama ini saya juga ikut mengurusi ternak perkutut dan juga koleksi keris. Jadi tidak ada masalah ketika Abah sudah tidak ada lagi,” imbuhnya. Terlebih dengan jumlah kandang yang hanya 20 petak, tidak ada hal yang sulit baginya untuk tetap bertahan memantau perkembangan penghuni kandang ternak.

Sukron Amirullah bersama benda pusaka koleksinya

“Sejak dulu Abah sudah bilang bahwa jumlah kandang tidak perlu banyak, yang penting kualitas bagus dan banyak dicari pembeli,” ucap Sukron menirukan pesan sang Ayah. Dan terbukti bahwa selama ini produk kandang ternak Tombo Ati Bird Farm tidak pernah menyisakan anakan. Semua laris manis diserbu pembeli.

Produk Tombo Ati masih menjadi jujukan kung mania

“Disini jarang menyimpang anakan sampai usia dewasa, ketika sudah bunyi biasanya sudah dibeli orang,” kata Sukron lagi. Selama ini Tombo Ati Bird Farm berusaha melepas produk dengan cara dipantau terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar sama-sama enak, pembeli tidak dirugikan.

“Saya berusaha menjual kualitas dengan cara dipantau, jika cocok dan harga juga cocok maka transaksi dilakukan. Saya juga seringkali jual burung bersama sangkarnya,” kata pria yang bekerja di kapal pesiar. Sangkar buat lomba yang ia pesan untuk dipakai sendiri, kadang kala harus ikut serta ketika ada burung laku.

Sukron Amirullah meneruskan hobi perkutut warisan sang ayah

Pembeli biasanya berminat mendapatkan sangkar yang menjadi tempat burung ditawarkan. Sukron menambahkan bahwa produk yang banyak menghasilkan anakan berkualitas berasal dari Kandang K.16 (Amuse K.555 x Padma) dan Kandang K 11 (Tombo Ati x Tombo Ati).

Diakui olehnya bahwa hampir 90 persen indukan sudah menggunakan ring sendiri yakni Tombo Ati. Ketika H.Musa masih ada, ia berusaha untuk mengembangkan trah-trah bagus dan kemudian dijadikan bahan indukan. Dari sinilah akhirnya muncul indukan sendiri yang sudah melalui seleksi ketat.

Benda pusaka koleksi Tombo Ati Bird Farm Bangkalan

Sedangkan 10 persen Sukron mengaku masih tetap membutuhkan suntikan indukan dari luar untuk memperbaiki kualitas anakan agar lebih meningkat. Yang mungkin membuat dirinya nyaman melakoni dua hobi ini adalah seringkali bisa melepas dua produk sekaligus yakni perkutut dan keris.

Sukron Amirullah disamping kandang favorit Tombo Ati BF

Biasanya orang yang cari perkutut ternyata hobi keris, begitu sebaliknya. Orang yang cari keris ternyata senang perkutut. Kenyataan inilah yang membawa hikmah tersendiri yang dialami Sukron. “Biarlah hobi perkutut dan keris berjalan bersama-sama karena saling menunjang dan tidak saling merugikan,” kata Sukron mengakhiri obrolan.

Advertisements
Lanjutkan Membaca