Connect with us

Perkutut

DND Bird Farm Mojokerto, Masih Menyimpan Produk Selevel Rekayasa

KONBUR Tayang

:

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nama besar DND Bird Farm sebagai salah satu farm yang sukses mencetak burung perkutut kelas konkurs, nampaknya belum pupus seiring makin banyaknya peternak hebat bermunculan. Disaat banyak peternak bertaruh mencetak perkutut level konkurs nasional, DND Bird Farm berusaha memainkan peran untuk bisa melakukan hal yang sama.

Djunaedi (duduk) pemilik DND BF bersama Ngadi awak kandang DND BF

Berbekal pengalaman selama bertahun-tahun dalam menekuni ternak perkutut plus materi yang mendukung, DND Bird Farm sukses melahirkan produk-produk buruan kung mania, salah satunya bernama Rekayasa, perkutut orbitan H.Gunawan MTG Indonesia. Kehadirannya di arena konkurs menghentak lewat prestasi yang selalu diraihnya.

Podium juara pertama, sepertinya bukan sesuatu yang mustahil didapat. Terlebih lewat sentuhan tangan sang perawat handal Abdus Syukur, Rekayasa mampu menjadi bintang lapangan. Rekayasa adalah anakan pertama dari hasil perkawinan antara indukan jantan TPP T.11 dengan indukan betina DND cucu kandang D.7.

Djunaedi sukses lahirkan Rekayasa dari kandang ternaknya

Anakan kedua, ketiga dan keempat nampaknya belum mampu menyusul sang kakak untuk tampil di lapangan karena dinilai tidak cocok untuk burung lomba, melainkan berbakat untuk tinggal didalam kandang ternak menjadi indukan. Anakan kelima diorbitkan H.Atip kung mania Surabaya dengan nama Nada.

Sedangkan anakan keenam kini bersama H.Tohir kung mania Gresik. Anakan berikutnya juga harus tinggal di dalam kandang ternak. Ada yang sudah resmi menjadi milik orang lain dan ada juga yang masih setia bersama DND Bird Farm. “Saya menyimpan adik Rekayasan yakni anakan ke.11, sepasang dan kebetulan jantan semua. Kini usianya sekitar 5 bulan,” terang Djunaedi.

Ngadi menujukkan bekas kandang kelahiran Rekayasa

Saat masih usia piyik kedua produk ini sudah menunjukkan kualitasnya. Namun belum mau menunjukkan penampilannya saat berada di lapangan. “Biasanya produk DND yang menggunakan trah TPP dan DLK tidak bisa tampil pada usianya muda. Kualitas burung baru kelihatan saat berusia 10 bulan,” ungkap Djunaedi.

Ngadi sang awak kandang mengakui, pada saat dilatih, kadang mau tampil meski belum maksimal. “Anakan ke 11 ini tengahnya lebih membat dan slow jika dibandingkan dengan Rekayasa,” jelas Ngadi singkat. Bahkan Abdus Syukur yang pernah memantau langsung, meskipun belum maksimal memberikan penilaian khusus.

Kandang DND D.1 dan D.2, siap lahirkan kembali produk level nasional

“Saya belum berani mengakui kalau burung ini lebih hebat dari Rekayasan, namun kalau burung ini nanti sudah dewasa dan mau tampil bagus, maka saya katakan bisa menjadi lawan sepadan bagi Rekayasa. Tinggal melihat siapa yang bisa lebih tampil maksimal, maka itulah pemenangnya,” aku Abdus Syukur.

Bahkan Abdus Syukur ada sinyal untuk membawa serta burung tersebut, namun keinginan tersebut harus tertunda karena belum ada kata sepakat. “Saya sudah menawar adik Rekayasa, tapi belum dikasihkan sama Koh Djun,” katanya. Djunaedi sendiri mengaku belum mau melepas sampai benar-benar terlihat kualitas yang sesungguhnya.

Djunaedi semakin matang dalam menekuni ternak perkutut

Meski kini DND Bird Farm tidak bisa lagi menikmati adik-adik Rekayasa karenasang indukan sudah diangkut ke markas H.Tohir Gresik, namun Djunaedi memiliki indukan baru yang diprediksi bakal melahirkan anakan yang tidak kalah hebatnya. “Saat ini saya ada dua kandang yakni D.1 dan D.2 yang bakal muncul anakan bagus,” tambahnya.

DND Kandang D.1 dihuni indukan jantan TPP T.10 dengan indukan betina adik Rekayasa tetasan keenam. Menurut penuturan Ngadi, anakan dari kandang ini masih piyik, namun sempat terpantau bagus. “Saya tidak mau mendahului, namun jika dilihat dari pengalaman selama ini, nampaknya kualitas kandang D.1 bagus-bagus,” jelas Ngadi.

Produk DND BF Mojokerto, siap menyediakan untuk kung mania

Sedangkan DND Kandang D.2 dihuni oleh indukan jantan TPP T.12 bersama pasangannya yang merupakan belahan Rekayasa. “Anakan pertama Kandang D.2 sekarang ada di Jember, kabarnya istimewa, sedangkan anakan kedua, saya simpan dan sudah terpantau. Saya yakin bisa buat lomba untuk tingkat nasional,” lanjut Djunaedi.  

Dedikasi yang diberikan Djunaedi dalam memantau perkembangan dan memberikan perhatian lebih menjadi satu diantara faktor keberhasilan tersebut. “Saya berusaha untuk terus menganalisa setiap perkembangan yang ada, kurang apa dan apa saja yang harus dilakukan agar produk DND bisa tetap bagus,” imbuhnya lagi.

Copyright © 2022 Media Agrobur. All Right Reserved.